Novel-novel John Ronald Reuel Tolkien (1892 – 1973)

View previous topic View next topic Go down

Novel-novel John Ronald Reuel Tolkien (1892 – 1973)

Post  Admin on Sat Aug 01, 2009 2:26 am

John Ronald Reuel Tolkien (lahir di Afrika Selatan, 3 Januari 1892 – wafat di Oxford, Inggris, 2 September 1973 pada umur 81 tahun) adalah penulis novel asal Britania Raya yang menulis The Hobbit (1937) dan lanjutannya The Lord of the Rings (1954—1955). Ia bekerja sebagai profesor dalam Bahasa Inggris di Universitas Leeds pada 1920-1925, sebagai profesor Bahasa Anglo-Saxon di Universitas Oxford pada 1925-1945, dan bahasa Inggris dan sastra, juga di Oxford, pada 1945-1959. Ia adalah seorang Katolik Roma yang sangat saleh. Tolkien adalah sahabat karib C.S. Lewis, dan anggota Inklings, sebuah kelompok diskusi sastra, bersama-sama dengan Lewis dan Owen Barfield. Selain The Hobbit dan The Lord of the Rings, fiksi karangan Tolkien juga mencakup The Silmarillion dan sejumlah buku lainnya yang diterbitkan setelah kematiannya tentang apa yang disebutnya sebagai legendarium, sebuah mitologi fiksi tentang Bumi di masa purbakala, yang dinamai Arda, dan Bumi-tengah, negeri yang dihuni oleh manusia khususnya. Kebanyakan dari karya-karya yang diterbitkan secara anumerta ini dikumpulkan dari catatan-catatan Tolkien oleh anaknya, Christopher Reuel Tolkien. Popularitas dan pengaruh karya-karya Tolkien yang bertahan lama telah menjadikannya sebagai “bapak” dari genre fantasi tinggi modern. Fiksi terbitan Tolkien lainnya mencakup adaptasi dari cerita-cerita yang aslinya dikisahkan kepada anak-anaknya dan tidak secara langsung terkait dengan legendarium-nya. Dimulai dengan The Book of Lost Tales, yang ditulis sementara ia tetirah dari penyakit yang dideritanya selama Perang Dunia I, Tolkien merancang sejumlah tema yang dipergunakan kembali dalam rangkaian naskah dari legendariumnya. Dua cerita yang paling menonjol, cerita tentang Beren dan Lúthien dan cerita tentang Túrin, dilanjutkannya ke dalam puisi-puisi narasi yang panjang (diterbitkan dalam The Lays of Beleriand). Tolkien menulis sebuah ringkasan pendek tentang mitologi yang dimaksudkan ditampilkan oleh puisi-puisi ini, dan ringkasan itu akhirnya berkembang menjadi The Silmarillion, sebuah sejarah epos yang tiga kali dimulai oleh Tolkien namun tak pernah diterbitkannya. Kisah dari penulisan ulang berkali-kali ini diceritakan dalam seri yang diterbitkan secara anumerta The History of Middle-Earth. Sejak sekitar 1936, ia mulai memperluas kerangka ini untuk mengikutsertakan kisah tentang The Fall of Númenor, yang diilhami oleh legenda Atlantis.
Tolkien sangat dipengaruhi oleh literatur Anglo-Saxon, mitologi Jermanik, Nors, cerita rakyat Finlandia, Alkitab, dan mitologi Yunani. Karya-karya yang paling sering dikutip sebagai sumber-sumber untuk cerita-cerita Tolkien mencakup Beowulf, Kalevala, Poetic Edda, Volsunga saga dan Hervarar saga[1]. Tolkien sendiri mengakui Homer, Oedipus, dan Kalevala sebagai pengaruh-pengaruh atau sumber-sumber bagi sebagian dari cerita-cerita dan gagasan-gagasannya. Ia juga meminjam dari sejumlah karya dan puisi Inggris Pertengahan.
Selain komposisi-komposisi mitologisnya, Tolkien gemar menciptakan kisah-kisah fantasi untuk menghibur anak-anaknya. Ia menulis surat-surat Natal tahunan dari Bapak Natal bagi mereka. Ia membangun serangkaian cerita pendek (yang belakangan dikumpulkan dan diterbitkan sebaai The Father Christmas Letters). Cerita-cerita lainnya termasuk Mr. Bliss, Roverandom, dan Smith of Wootton Major. Roverandom dan Smith of Wootton Major, seperti The Hobbit, meminjam gagasan-gagasan dari legendariumnya.
Tolkien tidak pernah berharap bahwa kisah-kisah fiksinya akan menjadi populer, namun ia dibujuk oleh seorang bekas mahasiswanya untuk menerbitkan sebuah buku yang telah ditulisnya untuk anak-anaknya yang diberi judul The Hobbit pada 1937. Namun, buku itu ternyata juga menarik para pembaca dewasa, dan ternyata cukup populer bagi penerbitnya, George Allen & Unwin, hingga Tolkien diminta menulis kelanjutannya.
Meskipun ia tidak merasa terdorong dengan topiknya, permintaan ini menyebabkan Tolkien mulai menulis apa yang kelak menjadi karyanya yang paling terkenal: sebuah epos novel yang terdiri dari tiga jilid The Lord of the Rings (terbit 1954–55). Tolkien menghabiskan lebih dari sepuluh tahun untuk menulis narasi dasar dan tambahan-tambahan untuk Lord of the Rings. Pada masa itu ia terus mendapatkan dukungan dari Inklings, khususnya dari teman paling akrabnya C. S. Lewis, pengarang The Chronicles of Narnia. Baik The Hobbit maupun The Lord of the Rings dikarang dengan latar belakang The Silmarillion, namun pada suatu masa yang jauh sesudahnya.
Tolkien mulanya memaksudkan The Lord of the Rings sebagai cerita anak-anak seperti The Hobbit, namun kisahnya dengan segera berkembang menjadi makin suram dan makin serius. Meskipun kisah ini adalah kelanjutan langsung dari The Hobbit, ceritanya menyapa pembaca yang lebih tua, dan banyak sekali meminjam kisah latar dari Beleriand yang telah dibangun Tolkien pada tahun-tahun sebelumnya, dan yang akhirnya diterbitkan secara anumerta dalam The Silmarillion dan terbitan-terbitan lainnya. Pengaruh Tolkian sangat mempengaruhi genre fantasi yang berkembang setelah sukses The Lord of the Rings.
Ayah Tolkien adalah Arthur Reuel Tolkien (1857–1896), seorang manajer bank Inggris, dan ibunya Mabel Suffield (1870–1904). Tolkien mempunyai seorang adik laki-laki, Hilary Arthur Reuel, yang dilahirkan pada 17 Februari 1894.
Pada usia tiga tahun, Tolkien pergi ke Inggris bersama ibu dan kakaknya dalam sebuah kunjungan keluarga yang direncanakan akan lama. Namun ayahnya meninggal di Afrika Selatan karena perdarahan otak yang parah sebelum ia bisa bergabung dengan mereka. Karena itu, keluarga ini tidak mempunyai pendapatan, sehingga ibunda Tolkien membawanya untuk tinggal bersama orangtuanya di Birmingham, Inggris. Tak lama kemudian pada 1896, mereka pindah ke Sarehole, yang waktu itu merupakan desa Worcestershire, dan belakangan digabungkan dengan Birmingham. Tolkien senang menjelajah di Sarehole Mill dan Moseley Bog serta Clent Hills dan Lickey Hills, yang belakangan mengilhami suasana buku-bukunya, selain kota-kota dan desa-desa Worcestershire seperti Bromsgrove, Alcester dan Alvechurch serta tempat-tempat seperti tanah pertanian bibinya di Bag End, nama yang kelak digunakannya dalam fiksinya.
Waktu remaja, Tolkien mulai menciptakan bahasa-bahasa tersendiri, dan tertarik dengan dongeng dan cerita-cerita tentang pahlawan.
Mabel mendidik kedua anaknya, dan Ronald, demikian keluarganya memanggil dia, adalah seorang murid yang tekun. Ibunya banyak mengajarinya botani, dan ia membangkitkan di dalam diri anaknya rasa senang melihat dan merasakan tumbuh-tumbuhan. Tolkien muda senang menggambar pemandangan dan pohon-pohonan. Namun pelajaran kesayangannya adalah semua yang berkaitan dengan bahasa-bahasa. Ibunya mengajarinya dasar-dasar bahasa Latin dalam usia yang sangat muda. Ia dapat membaca pada usia empat tahun, dan segera sesudah itu menulis dengan lancar. Ia masuk ke King Edward’s School, Birmingham dan, sementara menjadi murid di sana, ikut menolong “menggarisi rute” untuk parade penobatan Raja George V, yang diletakkan tepat di luar gerbang Istana Buckingham. Belakangan ia masuk ke St Phillip’s School dan Exeter College, Oxford.
Ibundanya menjadi pemeluk Katolik Roma pada 1900, meskipun keluarganya yang berlatar belakang Baptis memprotesnya dengan keras. Tahun 1904 ia meninggal karena diabetes, ketika Tolkien baru berusia 12 tahun, di Fern Cottage, Rednal, yang saat itu mereka sewa. Selama sisa hidupnya, Tolkien merasa bahwa ibunya telah menjadi seorang syahid bagi imannya. Hal ini memberikan dampak yang sangat mendalam bagi iman Katoliknya sendiri. Iman Tolkien yang saleh berperan penting dalam pertobatan C. S. Lewis menjadi seorang Anglikan.
Dalam kehidupannya selanjutnya sebagai seorang anak yatim, ia dibesarkan oleh Romo Francis Xavier Morgan dari Birmingham Oratory, di daerah Edgbaston, Birmingham. Ia tinggal di sana di bawah bayang-bayang Perrott’s Folly dan menara dari perusahaan air minum Edgbaston yang dibangun dengan arsitektur Victoria, yang kelak mempengaruhi Tolkien dengan gambaran mengenai menara-menara gelap dalam karya-karyanya. Pengaruh kuat lainnya adalah lukisan-lukisan abad Romantik pertengahan dari Edward Burne-Jones dan kelompok pelukis pra-Rafaelis. Museum dan Galeri Seni Birmingham mempunyai banyak koleksi yang terkenal di seluruh dunia dari karya-karya ini dan sejak 1908 telah memamerkannya untuk umum dengan gratis.
Kemudian, Tolkien menjadi mahasiswa Bahasa dan Kesusastraan Inggris di Universitas Oxford, dan menjadi spesialis Bahasa Inggris Kuno. Pada Perang Dunia I, Tolkien masuk tentara, tapi keluar karena sakit dan mulai menulis bukunya The Silmarillion (diterbitkan secara anumerta).
Sejak tahun 1925, beliau menjadi mahaguru Bahasa Inggris Kuno di Universitas Oxford sampai tahun 1959. Pada tahun 1972, Profesor Tolkien dianugrahi gelar “Commander of the Order of the British Empire” oleh Ratu Elisabeth.
Tolkien bertemu dan jatuh cinta dengan Edith Mary Bratt, yang tiga tahun lebih tua, pada usia 16 tahun. Pastur Francis melarang dia bertemu, berbicara, atau bahkan berkorespondensi dengannya hingga Tolkien berusia 21 tahun. Ia menaati larangan ini bulat-bulat.
Pada 1911, ketika mereka berada di King Edward’s School, Birmingham, Tolkien bersama tiga temannya, Rob Gilson, Geoffrey Smith dan Christopher Wiseman, membentuk sebuah perhimpunan setengah rahasia yang mereka namai “T.C.B.S.”, inisial dari “Klub Teh dan Perhimpunan Barrovian”, dari kesukaan mereka minum teh di Toko Barrow di dekat sekolah dan di perpustakaan sekolah, yang mestinya dilarang. Setelah lulus dari situ, anggota-anggotanya tetap saling berhubungan. Pada Desember 1914 mereka mengadakan sebuah “Konsili” di London, di rumah Wiseman. Bagi Tolkien, pertemuan ini menghasilkan dedikasi yang kuat untuk menulis puisi.
Pada musim panas 1911, Tolkien pergi berlibur ke Swiss, yang dikenangnya dengan hidup dalam suratnya tahun 1968 (Surat-surat, no. 306); ia mencatat bahwa perjalanan Bilbo menempuh Pegunungan Berkabut (”termasuk meluncur dari batu-batu yang licin ke hutan-hutan pinus”) langsung didasari pada petualangannya sementara kelompok 12 mereka berjalan dari Interlaken ke Lauterbrunnen, dan kemudian berkemah di daerah tumpukan potongan es di luar Mürren. Kelak, 57 tahun kemudian, Tolkien mengenang dengan penyesalan karena telah mengabaikan pemandangan salju abadi di Jungfrau dan Silberhorn (”Silvertine (Celebdil) dari mimpi-mimpiku”). Mereka menyeberangi Kleine Scheidegg ke Grindelwald dan melintasi Grosse Scheidegg ke Meiringen. Mereka melanjut menyeberangi Grimsel Pass dan melalui Valais hulu ke Brig, dan lanjut ke glasir Aletsch dan Zermatt.
Tolkien pada 1916, mengenakan seragam Tentara Britanianya dalam sebuah foto dari masa pertengahan Perang Dunia I (dari Biography oleh Carpenter)
Pada malam menjelang ulang tahunnya yang ke-21, Tolkien menelepon Edith dan melamarnya menjadi istrinya. Edith menjadi Katolik demi Tolkien. Mereka bertunangan di Birmingham, pada Januari 1913, dan menikah di Warwick, Inggris, pada 22 Maret 1916.
Kecintaannya akan lanskap mendorongnya untuk mengunjungi Cornwall pada 1914 dan konon ia sangat terkesan oleh garis pantai di sana dan lautnya. Setelah lulus dari Universitas Oxford dengan gelar dalam bahasa Inggris pada 1915, Tolkien bergabung dengan perjuangan Tentara Britania dalam Perang Dunia I dengan pangkat letnan dua di batalyon XI dari Lancashire Fusiliers. Batalyonnya dipindahkan ke Prancis pada 1916, dan di sana Tolkien menjadi perwira komunikasi selama Pertempuran Somme, hingga ia menderita demam pada 27 Oktober, dan dikirim pulang ke Inggris pada 8 November. Banyak dari rekan-rekannya di militer, maupun teman-temannya terdekat, terbunuh di dalam pearng. Sewaktu memulihkan kesehatannya di sebuah pondok di Great Haywood, Staffordshire, England, Tolkien mulai mengerjakan apa yang disebutnya The Book of Lost Tales, dimulai dengan The Fall of Gondolin. Sepanjang tahun 1917 dan 1918 penyakitnya kambuh terus, namun ia cukup sehat untuk melakukan dinas di tanah air di berbagai pangkalan dan dinaikkan pangkatnya menjadi letnan. Ketika ditempatkan di Kingston upon Hull, pada suatu ketika ia dan Etidh pergi berjalan-jalan ke hutan di dekat Roos yang tidak berapa jauh, dan Edith mulai menari untuknya di sebuah semak hemlock yang lebat. Kejadian ini mengilhami kisah tentang pertemuannya dengan Beren dan Lúthien, dan Tolkien serignkali menyebut Edith sebagai Lúthien-nya.

The Lord Of The Rings (English Version – completed with original version map created by Christopher Tolkien)
http://www.ziddu.com/download/5310654/1-TheLordOfTheRings-TheSilmarillion.zip.html
http://www.ziddu.com/download/5310783/2-TheLordOfTheRings-TheHobbit.zip.html
http://www.ziddu.com/download/5311344/3-TheLordOfTheRings-TheFellowshipOfTheRing.zip.html
http://www.ziddu.com/download/5311424/4-TheLordOfTheRings-TheTwoTowers.zip.html
http://www.ziddu.com/download/5312623/LordoftheRings-completecollection.zip.html

The Lord Of The Rings (Versi Bahasa Indonesia – lengkap dengan peta asli gambar tangan Christopher Tolkien)
The Lord Of The Rings – Kaum Silmarilis (belum pernah terbit versi Bahasa Indonesianya)
The Lord Of The Rings – Hobbit (segera diupload)
http://www.ziddu.com/download/5311904/1-TheLordOfTheRings-PembawaCincin.zip.html
http://www.ziddu.com/download/5312138/2-TheLordOfTheRings-DuaMenara.zip.html
http://www.ziddu.com/download/5312359/3-TheLordOfTheRings-KembalinyaSangRaja.zip.html

Admin
Admin

Posts: 14
Join date: 2009-08-01

View user profile http://ebook.finddiscussion.com

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum